Rabu, 03 Juni 2020

Berguna


"Sebagus-baik manusia ialah yang berguna buat manusia yang lain." – al-Hadis
Walau tidak pulang kampung, saat-saat selesai Hari Raya tetap membuat saya mengingat hadis di atas; hadis yang enak serta mudah dihapal (serta versus Arabnya), tetapi sering jadi hantu dalam realisasinya. Kata "mawas diri" atau muhasabah (jika ingin arti yang semakin agamawi), sebagai benar-benar terkenal di selama Ramadan sampai jauh sesudah 1 Syawal, akan menggerakkan kita mengarah yang semakin ruhaniah: amal apakah yang telah kita lakukan, dosa apa serta pada siapa yang telah kerjakan, dst. Tetapi, di saat yang sama, sebetulnya, kata itu seringkali dengan terus-terang merongrong dengan cara fisikal serta sosial: apakah yang telah kita kerjakan untuk diri kita, apakah yang telah kita kerjakan untuk keluarga, sampai (yang sangat berat) apakah yang telah kita kerjakan untuk warga. Bertepatan dengan pertanyaan basa-basi standard yang umum dilemparkan orang waktu beranjangsana, baik bagian keluarga atau semata-mata orang yang kita mengenal ("kerja dimana saat ini", "kamu kapan", "anakmu telah berapakah", "pulang naik apa", "ponakanmu kamu kasih apa", "bapak-ibu telah pada tua, waktu kamu begitu saja", "apakah yang telah kamu kerjakan untuk Muhammadiyah", dst.) memaksakan kita menanyakan apa peranan kita buat dunia di luar kita, baik yang kecil atau yang semakin besar.

Sejauh ini yang kita dengar ialah beberapa keluhan mereka yang berada di tempat atau diposisikan inferior. Mereka yang tidak berhasil dengan cara akademik, tidak sukses dengan cara finansial, kurang mulus dalam kehidupan, serta beberapa hal kurang yang lain, memang yang sangat rawan alami desakan serta paling menanggung derita dari rongrongan masalah peranan serta buat ini. Tetapi, terkadang yang disaksikan semakin superior tidak betul-betul aman, ditambah lagi bila superioritasnya itu seutuhnya cuma berada di kepala seseorang.

Saya, contohnya, yang alumnus kampus paling besar di Indonesia, sempat kerja di Jakarta, lama tinggal di Jogja, kadang-kadang menulis pada media, muka kadang-kadang muncul di koran, sebentar-sebentar didengar keluarkan buku baru, tidak banyak bicara mengenai apakah yang saya kerjakan, seringkali dipandang tetangga serta keluarga besar sembunyikan keberhasilan. Asumsi itu tentunya semakin lebih menentramkan dibandingkan didakwa tutupi ketidakberhasilan, tetapi tentunya hal tersebut bawa resiko. Dari berbasa-basi sampai dengan suara serius, beberapa orang tiba untuk pinjam uang; dari mulai jumlah yang logis sampai yang cuma dapat saya pikirkan bila saya memenangi hadiah sastra tiap bulan. Di peluang lain, orang tiba minta tolong dicarikan pekerjaan, bagus untuk dirinya atau untuk anggota keluarganya. Justru, sempat seorang tetangga jauh, yang saya mengenal nama saja, tiba pada hari Lebaran dengan bawa bermacam bungkusan, meminta pada saya untuk memuluskan kepentingan anaknya dalam suatu kampus yang belum pernah saya mengenal, sama orang yang namanya belum pernah saya dengar, dalam suatu kota yang belum pernah saya kunjungi. Tentunya hampir kesemua orang itu sedih. Tidak saja sebab saya bukan orang yang mereka pikirkan, tetapi sebab saya memang sungguh tidak mempunyai kelebihan serta kekuatan untuk membantu mereka.

Saat menulis fiksi, saya biasa membanting keinginan seseorang (pembaca), serta itu saya kerjakan secara rasa suka. Apesnya, saya ternyata melakukan di kehidupan riil, serta kesempatan ini umumnya perlu saya kerjakan secara rasa sesal. Jika saja penghasilan saya bulanan serta lumayan besar, kemungkinan saya dapat semakin bermurah hati memberi pinjaman; jika saja saya mengenal beberapa orang penting, bisa jadi saya semakin lebih gampang membantu orang; jika saja saya punyai usaha yang semakin riil, atau punyai akses pada satu-dua pebisnis, kemungkinan saya bisa menolong satu-dua famili memperoleh pekerjaannya; serta jika saja jika saja lainnya. Tetapi, bagaimana lagi, saya tidak punyai semuanya. Penghasilan saya 1/2 tahun sekali, itu juga tidak dapat dinyatakan. Pekerjaaan saya masih susah diterangkan, serta pada bagian keluarga sendiri. Jangankan mengenal beberapa orang penting atau kaya, saya serta akan menghindar bila mereka merapat.

Selanjutnya, yang dapat saya beri ialah jawaban menangkis yang standard serta terdengar kurang ajar, tetapi di saat yang sama menentramkan: "Ya, inilah penulis."

***

Harapan: Jadi manusia yang berbakti pada ke-2 orang-tua serta berbakti pada bangsa, negara, serta agama.

Demikian saya biasa isi kolom harapan, bila itu diperlukan, mulai dari SD sampai hampir lulus SMA. Serta saya percaya hal sama dilaksanakan oleh juta-an anak Indonesia yang pengetahuannya mengenai karier benar-benar terbatas, sekaligus juga yang berasa jika harapan ialah suatu hal yang asing serta absurd. Kemungkinan sebab harapan itu terdengar generik serta kekanakan, sesaat saya ketahui beberapa rekan akrab mulai mempunyai arah hidup yang benar-benar detil, seperti "jadi Pimpinan Redaksi Republika" atau "Pelatih Persebaya", di buku alumni SMA saya mengganti harapan saya: "Ingin jadi kaya segala hal". Semakin singkat sekaligus juga berkesan semakin material, tetapi jelas terdengar semakin lebih absurd.

"Bermanfaat", kecuali "berbakti", menghantui hidup saya serta umumnya anak Indonesia di generasi saya (serta mungkin saja generasi awalnya serta generasi yang semakin belakangan), serta itu bukanlah tanpa ada keterangan. Ya, ini berlangsung dengan cara universal, tetapi Indonesia punyai hal lebih dari pada lainnya. Kita dikelilingi oleh beberapa hal yang membimbing, seringkali lagi tuntut, untuk memprioritaskan sikap altruis. Tidak cuma agama, negara (melalui pendidikan) tetap menyarankan kita lakukan hal itu—dan mempersalahkan atau memberi hukuman bila tidak melakukan. Melihat kembali lagi formasi posisi dalam harapan itu, begitu teraturnya. Itu memvisualisasikan hampir segala hal. Serta karenanya ialah satu harapan template, tentunya ada yang mengajari murid-murid jenis kami untuk menuliskan.

Di waktu saya sekolah, yang masih tetap mencecap Penataran P-4 serta mata pelajaran Pendidikan Kepribadian Pancasila (PMP), pertanyaan seperti "Ikhlas berkorban adalah implikasi Pancasila ke […] serta butir ke […]" ialah suatu hal yang benar-benar dekat. Belum juga pertanyaan-pertanyaan esai yang membuat panduan keselamatan pesawat terbang (supaya memprioritaskan keselamatan diri sebelum keselamatan seseorang) jadi terdengar imoral. Pengalaman-pengalaman berikut yang membuat seseorang (dahulu guru PMP serta saat ini kemungkinan bagian keluarga kita, yang mendapatkan cerapan pendidikan/info yang sama) punyai tempat kepribadian tinggi untuk tuntut. Tetapi, yang seringkali semakin tidak tertanggungkan ialah bila tuntutan itu tiba dari diri kita.

Walau benar-benar jelek dalam pelajaran Pancasila, desakan-desakan untuk berlaku altruis itu bukanlah tidak berbekas pada saya—melengkapi hadis-hadis serta beberapa kata mutiara bahasa Arab yang gampang dihapal tetapi benar-benar susah untuk diterapkan itu. Saya hidup seperti pertapa di waktu remaja sebab mengharap itu "bermanfaat" buat ke-2 orang-tua, buat agama. Saya tidak sempat mencapai warung kopi di waktu SMA karenanya tidak saja tidak pas untuk santri, dan juga sebab boros—dan boros ialah sisi dari akhlak nista. Tidak merokok sebetulnya biasa serta mudah saja, tetapi sebab ibu saya demikian membanggakannya, karena itu saya mengglorifikasinya untuk sisi dari kesalehan.

Saat di umur kuliah, saya ingin meningkatkan ke-"bermanfaat"-an saya untuk warga yang semakin luas serta, kembali lagi, untuk agama. Saya sekian tahun tinggal di masjid, jadi muazin, kadang-kadang jadi imam salat serta naik mimbar, serta mengatur pengajian ibu-ibu. Saat selanjutnya berasa tidak berhasil, saya mengubahnya ke hal yang semakin duniawi, tetapi kurang mulianya. Kemungkinan orang-tua serta agama tidak dapat ambil manfaatnya, tetapi siapa tahu negara dan bangsa, semakin khusus lagi sastra Indonesia, dapat. Semenjak semester benar-benar awal, saya telah punyai "harapan" untuk "bersihkan nama sastra Indonesia" di golongan warga luas karena terkena "bacaan-bacaan berkualitas rendah". Jauh sebelum waktunya skripsi, saat kadang-kadang kirim cerpen ke Annida, saya telah pikirkan untuk bikin judul skripsi "Beberapa karya Freddy S. serta Mengakibatkan atas Pemahaman Jelek Warga pada Novel Indonesia". Hmm… mulia sekali, kan? Mujur, beberapa karya Kuntowijoyo yang bersahaja serta Teori Stanton yang kuno itu selamatkan saya dari jadi seorang moralis utopis sekaligus juga usaha lemparkan diri ke kobaran api.

Tetapi, tekanan itu belum selesai serta saat saya perlu luntang-lantung di Jakarta, beralih dari satu kos rekan ke kos rekan lainnya. Sedikit kekuatan menulis membuat harapan "selamatkan sastra Indonesia" itu masih menggantung di kening, walau usaha mencibir serta menyepelekan bukanlah tidak sempat saya kerjakan. Tidak berhasil keseluruhan untuk perantau di Jakarta, saya selanjutnya menyemai harapan itu dalam suatu pabrik buku pelajaran di Klaten, walau maksudnya sedikit membelok. Untuk karyawan yang dibayar untuk menulis buku pelajaran Riwayat Kebudayaan Islam, yang pertama ingin saya kerjakan ialah mengganti langkah menulis buku pelajaran riwayat yang menjemukan. Tutorial kurikulum yang bukan main jeleknya juga saya musuh. Saya banyak membaca buku riwayat Islam, dari yang babon-babon sampai yang mudah, untuk bikin buku pelajaran yang "bermanfaat" buat beberapa anak, supaya mereka nantinya jadi orang yang "bermanfaat buat nusa bangsa serta agama". Saat selanjutnya buku saya ialah buku paling anjlok penjualannya, saya serta masih mampu menghibur diri: "Bila dari beberapa ratus buku yang terjual, ada satu-dua buku yang membangkitkan satu-dua anak menjadi pembaca yang baik, pencinta riwayat yang bersungguh-sungguh, karena itu pekerjaan saya telah berhasil; buku itu telah ‘berguna'." Sebab lihat ke-"bermanfaat"-an buku/tulisan dapat benar-benar nyata sekaligus juga abstrak, dapat benar-benar detil tetapi dapat juga benar-benar luas, serta karenanya susah diukur, karena itu arah "bermanfaat" untuk buku pelajaran ini saya modifikasi sedikit saat novel pertama saya selesai. Lalu hal sama, dengan modifikasi lainnya lagi, saya kerjakan untuk novel selanjutnya lagi. Serta, ujungnya, Anda ketahui, saya tidak sempat betul-betul tahu bagaimana menghitungnya.

Kemungkinan sebab ketakterukurannya, selanjutnya saya tidak betul-betul percaya dengan yang awalnya saya yakini. Saya mulai coba menkonkretkan ke-"bermanfaat"-an itu. Bersama-sama seorang rekan, saya membuat perpustakaan di desa. Supaya "bermanfaat" bukan saja buat negara dan bangsa dan juga agama, perpustakaan itu saya simpan di masjid. Semangat kami besar sekali, tidak kurang dari beberapa aktivis literasi saat ini. Kecuali mengedarkan proposal ke banyak rekan yang saya mengenal serta penerbit yang saya dapat tembus, saya menyisihkan hal paling jelas "bermanfaat" hasil dari menulis saya: uang. Tentunya tidak banyak, sebab menulis tidak memberikan saya uang banyak, walau jika ditotal bisa jadi jauh semakin besar dari royalti novel saya yang sangat laku semasa satu tahun. (Ditambah separoh semakin buku koleksi pribadi yang saya bawa serta pulang, kemungkinan semakin besar lagi jika itu diuangkan.) Bulan-bulan awal, lihat semangat bocah-bocah yang bergabung, bermain, serta membaca, serta khususnya menanyakan, saya berasa jika apakah yang saya kerjakan mulai nampak bermanfaat (tanpa ada sinyal kutip). Tetapi cuma menanti beberapa waktu selanjutnya, sama seperti yang saya sangka, saya kembali lagi hadapi fakta jika jadi "bermanfaat" itu tidak mudah, ditambah lagi dengan tidak banyak disetujui orang—katakanlah dengan membaca. Serta di titik ini, saya perlu mengulang-ulang penghiburan lama saya, kembali lagi dengan sedikit modifikasi: "Jika ada satu atau dua anak saja sebagai pembaca yang baik, karena itu perpustakaan itu telah ‘berguna'".

Kemungkinan karenanya, saya mulai mengurangi desakan pada diri kita menjadi "bermanfaat", serta mulai lakukan beberapa hal yang tidak begitu bermanfaat. Saya ajak seseorang melihat film India segigih seorang pencinta lingkungan mengatakan pelestarian terumbu karang; saya menulis sepakbola semenggebu sekaligus juga seikhlas Yusuf Mansyur menyarankan sedekah. Selama ini, minimnya intensi untuk "bermanfaat" sangat bermanfaat. Walau masih tidak mempunyai tujuan, saya berasa hidup bertambah baikan. Kepala bertambah mudah.

Saat dalam suatu acara tonton bersama di Jombang penyair Binhad Nurrohmat menanyakan, apa arah saya menulis serta ajak tonton film India, dengan benar-benar mudah saya dapat jawab: "Untuk bersenang-senang." Selain itu, minimal, saya tidak akan mendapatkan beberapa mahasiswa Pengetahuan Keguruan kerjakan pekerjaan kuliah atau skripsi dengan mengulik pesan kepribadian serta mandat dari buku-buku saya mengenai film India serta sepakbola, seperti pada novel-novel saya.

Telah lama saya mengusahakan menghindar dari satu hadis yang berat ke hadis lain yang kemungkinan semakin mudah; dari "sebagus-baik manusia ialah yang berguna buat manusia yang lain" ke "seorang muslim ialah ia yang seseorang berasa darah serta hartanya aman darinya." Sebab saya tidak berpotensi jadi pembunuh, serta tidak punyai cukup keberanian untuk mencuri, saya berasa hadis yang paling akhir memungkinkan untuk digerakkan. Dalam kalimat lain, walau tidak begitu "bermanfaat" saya sedikit akan berasa lebih bagus bila tidak menyusahkan seseorang: pekerjaan saya tidak mencelakakan hak serta nyawa orang lain; ketetapan saya tidak menyebabkan jelek buat seseorang, dst.

"Jika kita tidak ingin menyusahkan seseorang, lalu bagaimanakah cara seseorang dapat menyusahkan kita?" tuntut seorang rekan. Serta dia terlihat benar-benar betul. Serta dia jadi makin betul saat memberikan tambahan: "Lagi juga, orang yang tidak ingin mengganggu seseorang akan dipandang mengganggu jika salah satu proses yang berlaku di masayarakat ialah sama-sama mengganggu keduanya. Itu ibarat kamu tidak turut bertepuk tangan sesaat orang seisi gedung bertempik sorak."

Dia betul. Serta saya salah. Serta tidak bermanfaat.

Terus apa? Kemungkinan saya seharusnya hidup saja, walau tidak berguna—seperti yang diserukan satu poster isolasi daerah dalam suatu kampung di Jogja, sebagai populer semasa epidemi. Itu terlihat tidak jelek. Efek paling besar paling dipandang fatalis. Jika mujur, kemungkinan kita dipandang rendah hati.

Lagi juga, di waktu ini, mati toh cuma akan memenuhi statistik saja.


Perayaan


Erling Haaland ialah seorang remaja semangat; masih muda (19 tahun), tinggi besar, pelari kencang, pirang, serta diramal akan jadi striker hebat di waktu tiba. Dia mendapatkan rumah di Sinyal Iduna Park, kandang Borussia Dortmund, salah satunya club sepakbola yang pilih langkah bermain paling semangat yang kita mengenal, dengan supporter paling semangat (serta paling ribut) yang kita ketahui. Serta akhir minggu kemarin, Haaland serta timnya hadapi Schalke, club tetangga Dortmund, yang sepanjang tahun mencipta salah satunya derbi paling hebat di sepakbola dunia, Ruhr derby.

Haaland cetak gol pertama di laga yang usai 4-0 untuk Dortmund itu, gol ke-10nya musim ini. Tetapi, kecuali langkah bermain Dortmund, semua terlihat tidak sama. Haaland dapat serta biasa membuat semua stadion bergetar bersama-sama tiap perayaan golnya, dengan raungan atau pukulan ke udara atau cengkamannnya ke seragam rekanan yang memberikannya umpan. Hari itu tidak demikian. Sesudah satu sontekan pembelok arah, gol ciri khas striker dengan peletakan tempat hebat, dia lari mengarah bendera di pojok lapangan. Di hari-hari lain dia kemungkinan melaju dengan lututnya, atau mungkin dengan dadanya, atau mengambil tiang bendera serta mengibarkannya mengarah tribun, meraung, menumpahkan adrenalinnya, serta semua rekanan segrupnya akan mengerubutinya, menimbuninya, mencium ubun-ubunnya, atau serta melekatenginya dengan gemas. Tetapi hari itu Haaland cuma berdiri dengan kikuk menghadap mengarah teman-teman segrupnya yang akan mengerumuninya, dengan seorang dari mereka memberikan aba-aba supaya jaga jarak darinya, lalu dia menari. Kaku serta malu-malu, seolah dia bocah aneh yang diminta menyanyi di muka kelas. Keceriaan itu jelas masih nampak, senyum bayinya mengembang, tetapi luapan emosi benar-benar jelas kuat-kuat ditahan.

Barney Ronay di The Guardian menyebutkan situasi yang berlangsung di Sinyal Iduna Park hari itu untuk "eerie silence", kesunyian yang menakutkan; arti yang sedikit aneh, tetapi benar-benar dapat diterima. Di stadion yang umum berisi 82 ribu orang itu, serta kesemuanya akan meraung dengan cara bertepatan saat berlangsung gol untuk tuan-rumah, hari itu cuma diisi seputar 300-an orang. Beberapa besarnya ialah pekerja stadion serta petugas laga, termasuk juga didalamnya anak gawang yang sudah dikurangi separuh dari jumlah biasa. Tidak ada pemirsa yang bisa masuk, tidak bisa berkerubung di dekat stadion. Sebagian orang yang duduk di tribun di bangku yang berjauhan ialah beberapa pemain pengganti ke-2 team, dengan selimut di kaki serta masker di muka—mungkin beberapa salah satunya berasa mereka tidak semestinya ada disana. Semua pekikan, bentrokan, keluh kesah, cacian tertangkap mikrofon di tepi lapangan serta digemakan ke semua stadion—dan didengar pemirsa di muka tv. (Itu mengapa cacian "Sana keloni nenekmu" dari bek Schalke Jean-Clair Todibo ke Haaland jadi terdengar jelas.) Yang nampak semakin aneh lagi, selesai laga, Haaland serta kawan-kawan segrupnya lakukan penghormatan mengarah tribun kosong The Yellow Wall yang populer itu.

Tentunya, hal yang berlangsung di Sinyal Iduna Park berlangsung di delapan stadion lain di Bundesliga Jerman minggu kemarin, yang kembali lagi meneruskan Liga sesudah diminta libur yang tidak direncanakan semasa dua bulan. Serta dia akan berlangsung di beberapa liga Eropa lain, yang selekasnya mengejar minimal awal Juni—kecuali yang sudah mengatakan tutup buku seperti di Prancis serta Belanda.

Beberapa orang mensyukuri kembalinya sepakbola, termasuk juga saya. Tetapi, ada beberapa faksi , serta ini cukup banyak, yang berasa jika sepakbola tanpa ada pemirsa bukan sepakbola. "Saya lebih bagus tidak bermain sepakbola bila tidak ada yang melihat. Itu tidak logis," kata Pep Guardiola baru saja ini. "Tidak ada yang semakin kosong dibandingkan satu stadion yang kosong. Tidak ada yang semakin bisu dibandingkan tribun yang tanpa ada pemirsa," catat Eduardo Galeano di bukunya yang mashur, Soccer in Sun and Shadow. Pep serta Galeano bicara di serta untuk kerangka yang lain, tetapi kedua-duanya saling mengutamakan jika stadion serta pemirsa ialah sisi yang tidak dapat diambil serta dipisah dari sepakbola.

"Kuil Beberapa Dewa yang Mencapai Bumi," demikian Christopher Thomas Gaffney memberikan judul studinya mengenai stadion-stadion di Brazil serta Argentina. Tetapi ini dapat juga dilekatkan pada sepakbola Eropa Barat yang punyai adat teras yang kuat, seperti di Inggris serta Jerman. Seperti digemakan oleh kalimat Galeano, Gaffney merasakan jika tetap ada dimensi ilahiah pada rekanan di antara stadion, pemirsa, serta pemain. Serta tv bukanlah tidak tahu itu.

Dalam langkah pandang industri tv, kedatangan pemirsa di stadion, keributan yang mereka buat, atmosfer yang diakibatkan oleh nyanyian pujian, dengusan sedih, cacian geram, tangisan kalah, ialah sisi integral dari tontonan yang mereka jual. Oleh karena itu mereka menempatkan beberapa ratus mikrofon yang menghadap ke tribun pemirsa, serta terakhir menerbangkan camera di atas stadion. Walau berbuih-buih bicara mengenai nilai-nilai sportivitas, mengakhiri pertandingan untuk sisi dari moralitas ksatria, ketetapan untuk selalu meneruskan Liga di sejumlah negara jelas didorong oleh fakta ekonomi: tim-tim perlu hidup, upah pemain serta karyawan club harus dibayar, dan—terutama—televisi tidak ingin begitu rugi.

Tetapi, tentunya, tidak saja tv kehilangan beberapa pesona jualannya. Stadion yang tanpa ada pemirsa membuat pemain di atas lapangan kehilangan pemujanya. Serta "beberapa orang yang memelototi satu tabung" (demikian Nick Hornby, novelis sekaligus juga supporter Arsenal, mencibir beberapa pemirsa tv) kehilangan sejumlah besar drama.

Serta pada umumnya, sepakbola kehilangan beberapa citarasa perayaannya.


Walau kemungkinan dipandang ofensif oleh beberapa skripturalis, yang memandang Islam (serta segala hal yang dapat dikaitkan dengannya) untuk "ya'lu wala yu'la", sesaat beberapa esoteris yang tetap punyai rincian panjang serta jelimet mengenai apa saja berkait agama kemungkinan menganggap reduksionis, saya dengan benar-benar gampang menyambungkan sepakbola serta Hari Raya. Lebih-lebih di waktu epidemi ini.

Sebelum keterhubungan itu saya terangkan, saya harus katakan jika saya bukan fans berat Hari Raya—setidaknya bila kita bicara mengenai "apa yang umum berlangsung" serta "bukan apakah yang semestinya berlangsung". Semua bocah akan menanti Hari Raya selanjutnya demikian Hari Raya usai, saya demikian. Tetapi, seingat saya, tidak kebanyakan hal hebat yang berlangsung pada saya pada hari spesial ini. Hari Raya seringkali berasa untuk acara pesta seseorang yang perlu saya turuti. Saya terkadang turut suka. Tetapi, bila tidak, saya ketahui saya cuma ikutan.

Pakaian baru, jajan serta penganan melimpah, tamu yang berduyun, jelas itu membahagiakan untuk bocah yang tumbuh di keluarga miskin seperti saya—selain tentunya jalanan yang ramai, serta satu bulan penuh puasa yang pada akhirnya selesai. Tetapi, terkadang itu tidak sebanding dengan muntaber hebat yang seringkali saya alami, minimal di umur di antara 9 hingga12, umumnya sebab keracunan makanan. Serta walau saya akan suka dibawa ke beberapa rumah lain dengan jajan yang semakin enak, atau ke sanak famili di desa yang jauh (serta umumnya semakin kaya), saya sejak dahulu sering jadi yang sangat tidak ketertarikan untuk "bersilaturrahmi". Serta, seringkali, dari malas menjadi siksaan bila ibu saya, seorang yang terkenal, dengan saudara serta rekan bersebaran dimana saja, mulai sedikit memaksakan.

Lebaran di saat-saat remaja jelas semakin berat. Bapak tidak berada di di antara kami, hingga saya dalam satu-dua hal perlu ambil peranan tradisionilnya: berkunjung ke famili yang tidak begitu saya mengenal, menyongsong tamu yang asing, atau beberapa hal seperti itu. Itu tidak membahagiakan. Bukan karena hanya saya berasa masih begitu muda untuk melakukan, dan juga sebab saya berasa telah lumayan besar untuk lakukan hal yang semestinya dilaksanakan beberapa remaja di Hari Raya.

Tidak tiap tahun berlangsung, tetapi beberapa Hari Raya paling tidak membahagiakan, sepi, terlewatkan, serta patut dilalaikan, berlangsung diakhir umur belasan serta awal 20-an. Tidak ada ke-2 orang-tua di dalam rumah, serta dalam beberapa peluang tidak ada apakah juga di dalam rumah. Telephone di wartel yang melelahkan serta tidak sebanding, tangisan serta kiriman tidak penting, serta beberapa hal tidak enak lainnya, sering memualkan serta habiskan energi serta emosi. Hari-hari Raya lain yang semakin komplet serta lebih membahagiakan terkadang tidak menyembuhkan cedera yang ditinggalkannya.

Tetapi, tentunya, semuanya tidak langsung membuat Hari Raya tidak saya kangenin. Dari sono-nya, ini ialah hari untuk senang, berbahagia; saya meyakini itu serta susah menyanggahnya. Kepulangan-kepulangan mendekati Hari Raya atau di hari-hari paling akhir Ramadan ialah kepulangan-kepulangan paling ketertarikan antara yang datar serta dilaksanakan dengan malas. Saya sudah tinggalkan kampung halaman semenjak umur 15, serta saya merasakan—hakul percaya merasakan—apa yang juta-an orang Indonesia rasakan saat mudik. Semasa berpuluh tahun, beberapa orang mempertaruhkan uang serta tenaga, serta nyawa, untuk dapat pulang jelas tidak semata-mata sebab keharusan, serta memang itu yang berlangsung. Sebelum kebahagian di Hari Raya datang, kebahagian lain (yang terkadang terasa semakin besar) ialah kembali lagi ada di kampung kelahiran. Serta kedua-duanya jelas bertalian.

Bergabung dengan keluarga besar di Hari Raya ada saatnya jadi neraka yang ada satu tahun sekali. Tetapi, tidak dimungkiri, antara itu tersisip kesenangan serta kebahagiaan yang teringat sampai sekian tahun selanjutnya. Iklan-iklan panjang dari produsen sirup serta bank serta rokok mengenai Hari Raya seringkali ngibul serta melebih-lebihkan, tetapi dalam banyak hal mereka memang betul.

Tidak ada Hari Raya yang prima. Tentu. Tetapi mengapa kita terus kangen untuk merayakannya—sebagian dengan tempuh jarak beberapa ratus kilo, kuras beberapa (besar) tabungan, tempuh beberapa efek? Kemungkinan sebab kita terus cari Hari Raya yang prima itu.

Saya belum memperolehnya—Hari Raya yang prima itu. Serta kemungkinan tidak akan memperolehnya. Tetapi, bila saya perlu alami yang sangat jelek salah satunya, dalam banyak peluang, seperti dalam banyak hal, sepakbola umumnya selamatkan saya.


Pada suatu Hari Raya, saya dibawa Bapak berkunjung ke famili jauh namanya Paman Sam. Dia seorang juragan perahu dalam suatu desa nelayan. Tempat tinggalnya besar serta perabotannya eksklusif. Satu tv besar berada di tengahnya ruangan tamunya. Di dalam rumah besar itu, untuk kali pertamanya, saya melihat tv berwarna. Kebetulan, itu ialah satu siaran secara langsung laga sepakbola. Jepang musuh Indonesia.

Laga usai jelek untuk Indonesia. Kita dihajar 5-0 oleh Jepang yang saat itu masih amatiran. Lapangan serta cuaca nampak pucat serta kuyu. Beberapa pemain Indonesia menggigil kedinginan serta alami flu, demikian pengamat TVRI memberitahukan. Ricky Yakobi serta Robby Darwis tidak henti-hentinya mengusap hidungnya yang meler. Saya tidak ingat itu tahun berapakah. (Bila video di Youtube serta data Wikipedia betul, peluang itu berlangsung pada tengah Juni 1989, dalam laga Kwalifikasi Piala Dunia 1990 Group 6.) Tetapi begitu saya dapat mengingat momen itu—mungkin salah satunya momen melihat paling jelas yang dapat saya ingat—sampai saat ini, saya ketahui itu ialah pengalaman melihat yang mengagumkan.

Walau dihitung dalam skema penanggalan tidak sama, Hari Raya hampir tidak dapat melepas diri dari sepakbola, minimal semenjak tv Indonesia menyiarkan dengan teratur beberapa liga besar Eropa. Bila Puasa jatuh bersamaan dengan musim panas Eropa, hampir dinyatakan dia akan beririsan dengan Piala Dunia atau Piala Eropa, yang diadakan (dengan cara selang-seling) 2 tahun sekali. Apabila Puasa jatuh di luar bulan di antara Mei serta Agustus, karena itu tentunya beberapa liga masih berjalan. Beberapa penceramah Tarawih pembenci sepakbola bisa jadi dengan berkobar-kobar mengutuknya untuk acara orang kafir yang menyengaja dibikin untuk bikin umat Islam lupa dari amalan-amalan penting di bulan mulia. Tetapi, itu sering jadi penawar yang cukup buat seorang bocah Jawa yang jarang-jarang mendapatkan kebahagiaan Hari Raya-nya.

Salah satunya yang sangat saya ingat serta nikmati berlangsung baru saja ini. Pada Puasa 2016, tv disesaki oleh dua kompetisi besar yang berjalan bertepatan: Piala Eropa di Prancis serta Copa America Centanario di AS. Argentina serta Messi tidak berhasil lagi, sesaat di seberang benua Cristiano Ronaldo serta Portugal menggondol juara, dua hasil yang saling tidak membahagiakan. Akan tetapi, di luar Tarawih serta tadarus saya yang menguap entahlah ke mana, itu salah satu Puasa serta Hari Raya paling baik yang sempat saya lalui. Pada hari-hari mendekati serta sesudah Hari Raya, kepala saya dipenuhi analisa serta inspirasi tulisan, karena saya harus menulis untuk Jawa Pos.

Saya sudah menulis semenjak tahun 1999. Saya punyai piala, plakat, piagam, serta medali sebab menulis fiksi. Tetapi, baru sesudah menulis sepakbolalah saya dengar tulisan saya diobrolkan orang di kios potong rambut tidak jauh dari pangkalan ojek ke arah desa saya, sesaat rekan di warung kopi menanyakan mengenai laga mendatang seolah saya ialah Bung Kusnaeni. Itu ialah kemewahan yang serta tidak sempat didapat sebab menulis novel semasa duapuluh tahun.

Saya pikirkan saya akan memerlukan paragraf-paragraf yang semakin panjang untuk mengurai masalah jalinan susah tetapi berasa intim di antara sepakbola serta Hari Raya ini. Jadi, seharusnya di sini saya catat yang semakin singkat saja: jika dalam kepala saya sepakbola serta Hari Raya sangat banyak keserupaannya—secara sosial, emosional, serta spiritual; jika, seperti sepakbola, Hari Raya dapat terus di nikmati serta dirayakan walau kita tidak percaya akan mendapatkan kemenangan; jika seperti sepakbola, Hari Raya bisa jadi ialah serangkaian dari ujian akan kesabaran serta loyalitas bukannya selalu satu pesta; jika seperti sepakbola, pada Hari Raya menempel perayaan-perayaan yang personal serta intim, di luar yang sosial serta massal.



Kecepatan dan Percepatan


Jika satu benda bergerak dari titik A ke arah titik B lewat satu trek lurus yang jaraknya 10 mtr. dalam tempo 10 detik, karena itu kita sebutkan jika benda itu bergerak sejauh 10 mtr. dalam tempo 10 detik. Jika kita jam rata, kita dapat sebutkan jika benda itu bergerak sejauh 1 mtr. semasa 1 detik. Besaran perkembangan jarak menempuh satu benda dalam tiap unit waktu semacam ini kita ucap kecepatan. Kecepatan dirumuskan dalam unit jarak per unit waktu. Satuannya dapat dipastikan dalam m/dt, km/jam, atau unit lain, sesuai dengan keperluan.

Kecepatan yang kita ulas barusan disebutkan kecepatan rerata. Kita kira semasa tempuh jarak barusan benda bergerak dengan kecepatan masih, atau kita tidak perduli pada kecepatannya pada setiap waktu. Mungkin dalam jarak spesifik kecepatannya 5 mtr. per detik, lalu di waktu lain kecepatannya 0,5 mtr. per detik. Detail itu tidak kita lihat. Kita cuma ingin tahu jarak serta waktu pintas keseluruhannya.

Jika kita ingin tahu berapakah jauh benda itu bergerak pada setiap waktu, karena itu kita harus menghitung jarak itu dalam selang waktu yang benar-benar pendek, contohnya semasa 1 detik saja. Atau, selang saatnya kita bikin semakin pendek lagi, serta kita ukur jarak yang dilakukan semasa waktu itu. Kecepatan ini disebutkan kecepatan sekejap.

Baik kecepatan rerata atau kecepatan sekejap ialah besaran penting dalam pengetahuan fisika. Kedua-duanya dipakai untuk beberapa kepentingan yang lain. Untuk pelajari dampak tumbukan di antara 2 benda, contohnya, semakin penting untuk tahu kecepatan sekejap, yakni di saat tumbukan. Sedang untuk penghitungan distribusi barang dalam pengetahuan logistik, kecepatan rerata semakin punyai arti.

Gerak benda yang bergerak lurus dengan kecepaan masih disebutkan disebut gerak lurus teratur. Jika tidak ada style yang kerja, satu benda tetap akan bergerak lurus, arahnya masih, besarnya masih. Itu yang dirumuskan dalam Hukum Newton I. Benda yang diam dapat juga disebutkan mempunyai kecepatan masih, yakni 0. Pada benda diam berlaku hukum yang sama.

Saat kita menjelaskan kecepatan, kita sedang mengulasnya untuk besaran vektor, yang punyai besar serta arah. Jika kita cuma membicaran besarnya saja, karenanya namanya bukan kecepatan, tetapi pergerakan. Pergerakan ialah nilai skalar dari besaran kecepatan.

Kecepatan bisa beralih, baik besarnya atau arahnya. Perkembangan kecepatan dalam tiap unit waktu disebutkan pemercepatan. Pemercepatan punyai arah, hingga pemercepatan besaran vektor. Jika satu benda alami bertambahnya kecepatan mengarah yang sama juga dengan arah kecepatan, karena itu gerak benda itu dipercepat. Jika arah pemercepatan ialah arah sebaliknya, karena itu benda itu diperlambat.

Pemercepatan dapat kerja mengarah mana saja. Jika pemercepatan kerja mengarah yang tidak sejajar dengan arah kecepatan, karena itu benda akan berbelok. Berbelok ialah sesuatu perkembangan kecepatan. Walau juga pergerakan benda tidak beralih, pada suatu benda yang berbelok ada pemercepatan.

Pemercepatan diakibatkan oleh style. Jika satu benda yang diam di atas meja kita dorong dengan satu style spesifik, karena itu benda itu akan bergerak melaju. Benda yang semula diam jadi bergerak, sebab ada style. Style mengubah kecepatan, dari 0 jadi tidak 0. Perkembangan kecepatan ini ialah pemercepatan. Besar pemercepatan ialah sebesar style dipisah massa benda. Untuk percepat satu benda yang besar massanya dibutuhkan style yang besar juga. Ini ialah rumusan Hukum Newton II.

Satu kali lagi, untuk percepat benda dibutuhkan style. Sumber style ini berbagai macam. Untuk percepat mobil kita menggunakan style dorong mesin yang dibuat dari style gerak karena pembakaran bensin di mesin mobil. Untuk percepat sepeda kita beri style dengan genjotan pada pedal sepeda. Untuk perlambat mobil serta sepeda kita imbuhkan style gesek lewat rem.

Banyak kepentingan yang menggunakan pemercepatan, baik dalam kehidupan setiap hari atau dalam riset. Mobil serta sepeda barusan ialah contoh dalam kehidupan setiap hari. Dalam riset fisika ada alat yang disebutkan akselerator. Sesuai dengan namanya alat ini berperan untuk meningkatkan kecepatan benda.

Salah satunya akselerator itu, dapat kita ucap terpopuler, ialah akselerator punya instansi analisa Eropa, yakni CERN. Alat ini berbentuk terowongan yang diameternya 27 km. Di akselerator partikel-partikel dipercepat dengan medan listrik atau medan magnet, berarti dikasih style, supaya makin bertambah kecepatannya. Lama-lama semakin cepat, serta kecepatannya terus ditambah, hingga jadi supercepat. Berapa cepat? Kecepatannya dekati kecepatan sinar.

Partikel-partikel itu ditabrakkan untuk lihat bagaimana mengakibatkan. Dari beberapa eksperimen itu beberapa pakar mendapatkan info mengenai sikap partikel-partikel penyusun atom.